{Day 7}
Hari ke tujuh, gue bangun kira-kira pukul 8.30 pagi. Tidak sempat menikmati angin pagi Mataram, rasa malas untuk kembali ke Jakarta sudah mulai menggerogoti gue. Senin pagi di Mataram sangat jauh berbeda dengan senin pagi di Jakarta yang sudah ramai dengan bunyi klakson kendaraan, asap polusi, dan kemacetan. ahh, rasanya tidak ingin bergelut dengan semua itu lagi.
Rencananya kami akan ke Sukarare, membeli oleh-oleh untuk sahabat dan keluarga. Teman-teman Fokus Unram harus ke kampus terlebih dahulu, jadi kami berangkat siang hari menuju Sukarare. Semangat gue mulai mengendur, entahlah, mungkin karena masih ingin menikmati perjalanan ini lebih lama. Malam nanti kami akan kembali ke Bali, meninggalkan semuanya di sini, ya kurang lebih begitulah suara kecil yang bergema di kepala gue. Gue sempat berfoto bersama IL dan Ivan sore itu, karena gue pikir gue akan merindukan mereka, merindukan lelucon-lelucon bodoh dari mulut mereka.
| bersama ketum IL |
| bersama Ivan |
Pukul 4 sore kami tiba di Sukarare, membeli beberapa oleh-oleh. Beberapa buah tangan sudah kami dapat, dan rencananya kami akan menuju ke mataram untuk membeli beberapa lagi. Di sepanjang jalan pulang gue memejamkan mata, merasakan angin sore dan cahaya lembayung senja menembus kelopak mata gue. Gue sempat menulis rasa itu di notes handphone gue...
"Memejamkan mata, membiarkan
angin sore menerpa wajah dan rambut berkibas membelah cahaya lembayung matahari
yang menembus kelopak mata. Yaa, gue mau menikmati sore terakhir gue di lombok
dalam trip ini. Honeymoon on icenya TTATW sedang bermain lembut di telinga,
kemudian suara kecil mulai bermonolog dalam benak... Gue tinggalkan kalian
di sini, di pulau luar biasa ini, kalian 3tahun setengah, jidat helipet, dan
semua kalori dalam otak gue" ~ sambil melepas kepalan tangan kembali suara
kecil bernarasi "gue lepasin kalian di sini, gue lepasin kalian semua di
Seriwe, biar terbawa angin dan bebas. Gue lepasin kalian di Gili Trawangan,
biar tersapu ombak dan menghilang" ~ cahaya lembayung jingga menembus
kelopak mata, wajah gue masih tersapu angin, imajinasi bermain-main seperti
membentuk siluet diri gue dibiaskan cahaya matahari. Yaa, di sana diri gue yang
baru, memilih kebebeasan untuk menjadi diri sendiri, memilih cara terbaik untuk
menikmati hidup, memilih untuk selalu bersyukur atas apa yang gue rasa, apa yang
gue terima, apa yang gue lihat, apa yang gue nikmati, dan untuk semua hal yang
terjadi dalam hidup gue. Lalu gue akan kembali ke Jakarta, membawa jiwa gue
yang baru, hati gue yang baru, dan senyum gue yang baru.
tulisan gue malam itu akhirnya membawa gue kepada rasa lelah dan kemudian menemukan sandaran kepala dan tertidur. Sampai jumpa lagi Lombok, sampai ketemu lagi dengan judul yang baru.
Yaaa, kebebasan menjadi diri
sendiri memang tidak bisa di beli, tapi di pilih."
Begitulah tulisan yang tercipta sore itu, iya, sore terakhir di Pulau Lombok dalam perjalanan bahkan sempat memberi pelajaran dan rasa luar biasa buat gue. Tujuan gue ikut dalam perjalanan ini tercapai.
- Menghabiskan malam bersama anak-anak Fokus Unram-
Setelah mendapatkan semua oleh-oleh yang hendak dibawa ke Jakarta, kami kemudian menuju Studio Fokus Unram. Sudah pukul 6.40 menit kami meninggalkan pusat perbelanjaan oleh-oleh itu. Gue memboncengi IL sampai kampus Unram, sepanjang jalan IL mengingatkan untuk pelan, haha.
Studio Fokus Unram sudah ramai oleh anggotanya, gue tiba dan disambut oleh Culin dengan menyodorkan telapak tangannya, mengajak high five karena telah berhasil memboncengi ketum IL sampai ke kampus Unram, haha. Malam itu kami menulis pesan dan kesan di buku tamu, makan sayur kangkung pedas khas lombok bersama-sama, merekam video promosi Jambore, dan berakhir dengan berfoto bersama. Malam itu romantis, canda dan tawa kami saat gue mendadani IL dan Ardi sebelum mereka mempromosikan Lombok dan Jambore, senyum sumringah kami ketika berfoto bersama, semuanya.
Malam itu akhirnya harus kami sudahi dengan mengucapkan "makasih ya,sampe ketemu di kesempatan berikutnya, semoga cepat lulus, sukses" dan lain lain sebagainya kepada anak-anak Fokus Unram. sedih, ia gue sedih ketika harus menyadari kalau jam 12 nanti gue harus meninggalkan pulau ini. "udah jam setengah 11" kata suara kecil dalam kepala gue ketika melirik ke arah jam tangan.
Kami akan diantar oleh Opung, IL, Enji dan Culin sampai pelabuhan Lembar, tempat pertemuan kami pertama kali. Sebelumnya kami kembali ke rumah Wibi, packing sekaligus pamit dan menghaturkan terimakasih yang luar biasa kepada orang tua wibi atas kebaikan hatinya meminjamkan ruangan untuk tempat kami menginap, juga pamit kepada Wibi dan Ivan, Ciming, dan teman-teman lainnya yang tidak bisa ikut mengantar kami ke Pelabuhan. Haru, iya haru yang menjadi rasa dominan malam itu. Gue menarik nafas dalam-dalam, merasakan udara malam Mataram masuk ke paru-paru gue, menyimpannya rapih di sana, seperti setiap moment yang telah menjadi kenangan...
| Di rumah Wibi, bersiap-siap menuju Pelabuhan Lembar, 11.50 Malam |
Angin malam itu cukup membuat gue menggigil kedinginan, untung pakai celana panjang seperti pesan Suri, salah seorang anggota fokus Unram, jadi tidak begitu menyiksa. Sepanjang jalan menuju pelabuhan Lembar gue diam, melihat gelap, dan bersyukur kepada The Sacred untuk kesempatan menikmati perjalanan ini. Opung mengendarai motornya pelan, biar tidak terlalu dingin katanya.
sekitar pukul 12.10 malam kami tiba di Pelabuhan Lembar, seperti biasa calo-calo pelabuhan mulai merapatkan barisan ke arah kami, mereka sempat mengira kami pendaki yang baru turun dari Gunung Rinjani, mungkin karena melihat Jond dan Dipo membawa tas keril besar. Perdebatan untuk negosiasi harga dilakukan oleh Jond dan dibantu IL, Enji dan Dipo. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa calo yang menawarkan tiket RP. 30.000, 6000 rupiah lebih murah dari harga aslinya.
Motor diparkir di luar pelabuhan, kami berjalan bersama menuju dermaga. haaaaah, harus ada perpisahan memang. kapal Fery sudah menunggu kami, kami segera berpamitan kepada Enji, IL, Culin dan Opung. Air mata sudah berkumpul, tapi tidak terjatuh karena malu :D perpisahan kami malam itu romantis. rasanya ingin gue peluk mereka satu-satu, sebagai sahabat yang sudah sangat baik menjamu kami selama perjalanan ini. Kami akhirnya harus melambaikan tangan sambil berjalan menuju kapal Fery. Mereka menunggu sampai kami masuk ke dalam kapal, memastikan kami tidak ditipu oleh calo-calo pelabuhan. ahh, gue bakal kangen semua ini, bakal kangen mereka.
- Di atas Kapal fery, menuju Bali, 2.00 dini hari-
Harit sudah mengambil posisi untuk tidur, Dipo dan Jond keluar untuk minum kopi dan merokok, gue harus tetap terjaga menjaga barang bawaan kami. kapal yang kami tumpangi malam itu cukup bagus dan bersih, sepertinya kapal baru. Tempat untuk lesehan hanya sedikit karena didominasi kursi berjejer menghadap arah depan kapal dengan televisi di sisi paling depan seperti bioskop, dan beberap kursi panjang melingkari meja kecil.
beberapa lagu gue dengarkan untuk membunuh waktu, kemudian kembali menulis di notes handphone ...
"Langkah gue seperti lemah terayun memasuki kapal Fery yang sebentar lagi akan berangkat menuju Pelabuhan Padang Bai, Bali. Euforia perjalanan yang luar biasa ini masih terlalu gegap gempita untuk gue padamkan malam ini, yaa tapi memang itu satu-satunya pilihan.
sekitar pukul 12.10 malam kami tiba di Pelabuhan Lembar, seperti biasa calo-calo pelabuhan mulai merapatkan barisan ke arah kami, mereka sempat mengira kami pendaki yang baru turun dari Gunung Rinjani, mungkin karena melihat Jond dan Dipo membawa tas keril besar. Perdebatan untuk negosiasi harga dilakukan oleh Jond dan dibantu IL, Enji dan Dipo. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa calo yang menawarkan tiket RP. 30.000, 6000 rupiah lebih murah dari harga aslinya.
Motor diparkir di luar pelabuhan, kami berjalan bersama menuju dermaga. haaaaah, harus ada perpisahan memang. kapal Fery sudah menunggu kami, kami segera berpamitan kepada Enji, IL, Culin dan Opung. Air mata sudah berkumpul, tapi tidak terjatuh karena malu :D perpisahan kami malam itu romantis. rasanya ingin gue peluk mereka satu-satu, sebagai sahabat yang sudah sangat baik menjamu kami selama perjalanan ini. Kami akhirnya harus melambaikan tangan sambil berjalan menuju kapal Fery. Mereka menunggu sampai kami masuk ke dalam kapal, memastikan kami tidak ditipu oleh calo-calo pelabuhan. ahh, gue bakal kangen semua ini, bakal kangen mereka.
- Di atas Kapal fery, menuju Bali, 2.00 dini hari-
Harit sudah mengambil posisi untuk tidur, Dipo dan Jond keluar untuk minum kopi dan merokok, gue harus tetap terjaga menjaga barang bawaan kami. kapal yang kami tumpangi malam itu cukup bagus dan bersih, sepertinya kapal baru. Tempat untuk lesehan hanya sedikit karena didominasi kursi berjejer menghadap arah depan kapal dengan televisi di sisi paling depan seperti bioskop, dan beberap kursi panjang melingkari meja kecil.
beberapa lagu gue dengarkan untuk membunuh waktu, kemudian kembali menulis di notes handphone ...
"Langkah gue seperti lemah terayun memasuki kapal Fery yang sebentar lagi akan berangkat menuju Pelabuhan Padang Bai, Bali. Euforia perjalanan yang luar biasa ini masih terlalu gegap gempita untuk gue padamkan malam ini, yaa tapi memang itu satu-satunya pilihan.
Perjalanan 6hari belakangan
ini, di pulau yang luar biasa indah seperti menularkan keindahan tersendiri
dalam setiap hal yang pernah terjadi di sana, dan malam ini, di sini, di atas
kapal fery ini, gue harus menghapus semuanya, jika perlu gue bahkan harus
membuangnya di laut, membiarkan mereka terbawa ombak, atau menjadi makanan
ikan, atau bahkan bisa terdampar di satu pantai dan suatu hari nanti bisa gue
temukan kembali. Yang pasti gue ngga boleh membawanya pulang ke Jakarta.
Semuanya harus gue tinggalkan di sini, ngga boleh ada yang tersisa."
tulisan gue malam itu akhirnya membawa gue kepada rasa lelah dan kemudian menemukan sandaran kepala dan tertidur. Sampai jumpa lagi Lombok, sampai ketemu lagi dengan judul yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar