{Day 4}
-Part One-
"Poh, katanya mau motret sunrise, bangun!" kata gue sambil mengguncang-guncang tubuh Dipo yang masih terlelap. Pagi itu kira-kira pukul 6.05am, matahari belum menyebarkan senyum kejinggaannya, hanya bias cahaya orange yang baru saja nampak dari balik tenda kami. Embun di luar tenda sudah mulai menguap menjadi titik-titik udara yang luar biasa sejuk memasuki paru-paru. Gue dan Dipo segera keluar tenda, bergegas mengambil kamera untuk sebisa mungkin memtoret moment sunrise cantik di Timur Lombok ini. "ayok ke bukit poh, bawa motor aja, si Culin sama Alam udah di atas noh" Sambil menunjuk ke arah bukit gue mengajak Dipo untuk naik ke atas bukit dan memotret di sana. Jond masih terlelap, malam itu dia tidur di luar tenda, lebih memilih untuk menikmati angin seriwe, daripada merasakan panas dan sempit di dalam tenda. Puji dan istrinya pun begitu, mereka dengan romantis tidur di luar dan membuat tenda darurat menggunakan sarung istrinya, Enji dan IL juga masih terlelap dan berselimut jaket. Pagi yang cerah, udara yang lembut, dan sinar matahari perlahan-lahan naik dengan romantis.
Di atas bukit Culin dan Alam sudah duduk memeluk lutut mereka, menikmati matahari yang perlahan-lahan keluar dari persembunyiannya. Dipo sudah mulai memasang tripod bersiap-siap mengabadikan moment indah ini, sayang dia tidak bisa menikmatinya bersama pacarnya :D. Gue juga begitu, menikmati indahnya pagi di bukit Seriwe bersama kekasih hati baru gue, kamera. Setiap keindahan yang gue lihat rasanya sayang untuk tidak diabadikan, dan kamera mengambil peran penting di sana.
Gue duduk menghadap ke arah matahari, menulis kalimat "#DPRWolesGoesToLombok Day 4" di sebatang kayu kering yang gue temukan di atas bukit. Setelah menikmati asiknya mengabadikan moment indah itu, gue menarik nafas, kembali menengadah ke atas, lalu melihat ke dalam hati menggunakan rasa. Ini kejutan yang kesekian yang sangat luar biasa yang diberikan The Sacred untuk gue. Pelajaran kembali gue dapatkan. Bersyukur, meski untuk hal kecil sekalipun adalah hal fundamental untuk menikmati hidup dan menjadi pribadi yang bahagia. Senyum gue kembali terangkai, berusaha merekam pagi itu sebisa mungkin dalam benak dan imaji. Keindahan pagi Seriwe, kelembutan udara dan cahaya matahari Seriwe.
- Menuju Pantai dan Tebing Baru-
Setelah menikmati pagi, tak lama kemudian Puji mengajak kami untuk segera berbenah dan kembali ke rumahnya. Puji hendak mengajak kami melihat pantai yang belum tersentuh pariwasata, di sana juga ada bukit dan tebing yang indah. Sekitar Pukul 7.10am kami semua bersiap-siap, membereskan tenda, peralatan logistik, dan pribadi kemudian kembali ke rumah Puji.
{Rumah Puji}
(dokumentasi: Harit)
Hanya beberapa menit di rumah Puji, meletakan barang-barang bawaan dan sedikit meregangkan otot, kami langsung menuju ke pesisir pantai. Di sana banyak perahu-perahu nelayan yang mengapung cantik. Pasirnya pun masih sangat putih dan berkedap-kedip disapa matahari pagi. Ombak masih tenang disapu desiran lembut angin Seriwe. Kami semua bersemangat untuk menyeberang menggunakan perahu kecil milik Puji. canda dan gurauan mengantarkan kami menaiki perahu kecil itu, semua duduk dengan posisi sedemikian rupa agar perahu tidak miring dan terbalik. Dipo dan alam sedikit terlihat canggung karena tidak bisa berenang. Sedangkan IL, Enji, Culin dan Puji justru bercanda-canda dan tertawa menggoda Dipo dan Alam. ada anak kecil ikut bersama kami, gue tidak sempat tahu namanya siapa, tapi dia adalah keponakan dari Puji, kami menyebutnya ABK (Anak Buah Kapal) dan Puji sebagai Kapten. Perjalanan yang menyenangkan.
{di atas perahu}
(dokumentasi: Dipo)
Tidak sampai 20 menit, kami sudah tiba di daerah yang sebut saja #noname itu, deburan ombak besar mulai bergemuruh. Pantai dengan pasir putih tersenyum menyambut kami, gemuruh ombak besar yang berkejar-kejaran seolah memainkan instrumen musik alam untuk kami. Segera gue, dipo dan harit mengeluarkan kamera untuk mengabadikan keindahan pantai #noname itu.
Pantai yang indah, tebing mengelilingi, karang dan bukit menjadi perhiasan manis, tidak sabar rasanya untuk bermain ombak. Hanya ada kami, hanya ada canda dan tawa kami, hanya ada ceria kami, serta keindahan dan kenikmatan yang luar biasa dariNya.
Gue dan Jond mulai berlari-lari kecil menghadap ombak, tak lama kemudian membiarkan tubuh kami dihempas ombak, terbawa ke sana kemari seperti anak kecil yang sangat rindu berenang. Semuanya terlepas, beban dan energi negatif terhapus dan terbawa ombak. Gue tersenyum, tertawa, melepas semuanya, membiarkan mereka tersapu dan tergulung ombat, lalu terbawa ke laut selatan. Sejenak mata gue melihat ke arah tebing, dan gue mendapatinya sedang memotret kebahagiaan kami dari atas.
ombak di Seriwe seperti bernyanyi. gue duduk di tepi pantai, memejamkan mata gue, mendengarkan irama ombak yang bernyanyi, tidak ada nada seindah itu. Jond masih terus bermain dengan ombak, tidak ada yang bisa membohongi perasaan senang, tidak ada yang mampu menutupi sukacita itu. gue kembali memejamkan mata, merasakan angin membelai wajah dan rambut gue yang tergerai, cahaya matahari berwarna biru. Saat gue membuka mata, gue tersenyum, menghadap ke arah belakang dan kembali menemukan wajah yang bersinar di antara ribuan bintang malam kemarin di bukit Seriwe.
Setelah puas bermain ombak, dan anginpun semakin bertiup kencang dan membekukan tubuh yang basah, Puji pun mengajak kami untuk kembali ke rumahnya. "takut ombaknya makin besar dan panas" katanya. Kami kembali ke rumah Puji sekitar pukul 10.10am WITA. Apa yang dikatakan Puji ternyata benar, ombak semakin besar dan menggoyangkan perahu kecil kami. Alam dan Dipo mulai terlihat panik, sedangkan IL masih saja bercanda dan bersenda gurau. suasana memang sempat mengerikan tapi tetap dikalahkan oleh celoteh dan lelucon IL yang membuat kami tetap tertawa. "yaa saudara-saudara ada kata-kata terakhir?" katanya sambil berdiri dan bergoyang-goyang di atas kapal. "Allahu Akbar" teriak Dipo sambil tertawa beerusaha membunuh rasa takut. "Temen-temen, maafin gueeee yaaah" kata Dipo selanjutnya memecah tawa kami. ombak semakin asyik menari dan menggoyangkan perahu kecil kami yang sudah mulai miring. IL, Puji, Culin dan Enji masih saja terlihat santai, haha. Akhirnya, setelah menghadapi situasi tegang tapi lucu itu, perahu kami berhasil berlabuh di tepi pantai, "Terimakasih Tuhan" kata kami serempak, hahaha.
Dipo dan Harit memang belum sempat berenang di pantai Noname tadi, akhirnya mereka memutuskan untuk berenang di pantai tempat perahu Puji berlabuh. Gue dan Jond akhirnya ikut berenang karena ingin difoto dengan kamera underwater milik Dipo. siang itu kami berenang berempat, dan sempat mengabadikannya. Angin yang semakin kencang akhirnya menghentikan kami, bergegas kami naik dan mengenakan pakaian lalu berjalan ke rumah Puji yang letaknya hanya beberapa meter dari pantai. Dipo dan Harit juga hendak menunaikan ibadah Shalat Jumat siang itu. "Pengen ngerasain sensasinya" kata Dipo.
- Jumat siang, di Pemukiman Seriwe-
Siang itu, kami semua sudah merasakan lelah, rasa kantuk mulai menggodai tubuh untuk merebah dan mata untuk terpejam. lelah yang menyenagkan, beristirahat di sebuah rumah panggung sederhana berdinding bilik bambu namun penuh atmosfer sukacita dan cinta. Harit, Dipo, IL, Enji dan Puji melaksanakan shalat Jumat, sedang Culin dan Alam harus kembali ke Mataram karena harus kuliah. Gue dan Jond yang terbaring lelah di rumah Puji, mendengarkan khotbah shalat jumat dari kejauahan. "Tuhan memberikan pelajaran hidup kepada setiap kata sama seperti ujian sekolah. Semakin tinggi pendidikan kita, maka semakin berat pula ujiannya, karena Tuhan tau kemampuan dan kapasitas kita untuk menghadapinya" kurang lebih begitulah suara sang penceramah yang terdengar jelas dari toa masjid.
Mata gue perlahan-lahan terpejam, memasuki alam bawa sadar dan sempat merasakan tidur kurang lebih 15 menit sampai Dipo, Harit, IL, dan Enji kembali dari masjid. Puji masih mengikuti rapat katanya, dia memang menjadi pemuda yang aktif di lingkungannya. Tak lama kemudian, Puji kembali dan makan siang sudah tersaji dengan lezat. Ikan baronang bakar, sambel dan nasi hangat serta sayur sudah tertata rapih. Kami semua melahap makanan dengan gembira, lapar hilang seketika menyantap ikan segar dan sambel ala lombok buatan istri tercinta Puji. "terimakasih Tuhan sudah mempertemukan kami dengan Puji, berkati keluarganya ya Tuhan" doa gue dalam hati saat hendak menikmati rasa lezat ikan baronang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar