Halaman

Jumat, 01 Juni 2012

#DPRWolesGoesToLombok {4}

suatu hari di sebuah perjalanan ...


{Day 4}
-Part Two-


- Suku Sasak, Desa Sade-

Pukul 2.00 siang WITA, kami bersiap-siap kembali ke Mataram, segala peralatan, tas dan barang dirapihkan kembali. Sebelum kembali ke Mataram, rencananya kami akan mampir sebentar ke Desa Sade, Pantai Kuta dan Tanjung Aan. Pukul 2.20 menit kami meninggalkan rumah Puji, juga meninggalkan rasa terimakasih dan cinta yang sedalam-dalamnya untuknya dan keluarga kecilnya.

kami kembali ke Mataram tanpa Culin dan Alam karena mereka sudah pulang duluan. Jond mengendarai motor Culin bersama IL, Dipo bersama Enji, dan gue bersama Harit. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kami akhirnya tiba di Desa Sade. Sebuah desa pariwisata yang dibentuk oleh pemerintah setempat. desa ini adalah pemukiman suku Sasak, suku asli Lombok.


Di Desa Sade ini, suku Sasak bermukim dan melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Menenun, dan berjualan kain hasil tenunan mereka. Desa ini memang cukup ramai dikunjungi wisatawan, sehingga suasananya hampir seperti pusat perbelanjaan kain, sayangnya gue tidak mendapat banyak informasi unik tentang masyarakat suku Sasak ini. yang gue tau adalah, perempuan suku Sasak harus bisa menenun kain. Menenun adalah indikator kedewasaan perempuan suku Sasak, jika mereka sudah bisa menenun, maka mereka sudah dinyatakan dewasa dan diperbolehkan menikah. Rata-rata, perempuan sasak sudah bisa menenun kain sejak usia 10-12 tahun.


Tradisi ini diwariskan turun temurun, termasuk juga tradisi menculik pasangan saat hendak menikah. Laki-laki diwajibkan menculi calon istrinya, dan membawanya kabur ke tempat yang tidak diketahui oleh pihak keluarga perempuan, setelah itu keluarga laki-laki akan mengirim utusan ke pihak perempuan, memberikan kabar bahwa anak perempuannya telah diculik dan telah dinikahi. Hampir sama dengan tradisi yang ada di suku Baduy, Pandeglang Banten. Kurang lebih itu saja informasi mengenai masyarakat Suku Sasak ini. mereka sudah sangat mahir dalam transaksi jual beli, menawarkan barang dan menjelaskan kebudayaan mereka. Rumah mereka juga terbuat dari bambu, namun beralaskan tanah, setiap minggu tanah itu dipel menggunakan kotoran kerbau, salah satu tradisi yang unik dari Suku Sasak.

- Tanjung Aan -

Setelah melihat dan sedikit mengeksplorasi kebudayaan suku Sasak di Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan menuju Kuta dan Tanjung Aan. Perjalanan dari Desa Sade menuju Tanjung Aan kurang lebih 1 setengah jam, kami tiba di tanjung Aan sekitar pukul 4.00 sore. Tidak mampir ke Kuta tapi langsung menuju ke Tanjung Aan. Setibanya di tanjung Aan, kami kembali disambut oleh pemandangan pantai dengan pasir putih yang romantis dan deburan ombak yang dramatis namun tenang. Pantai itu sepi, sepertinya hanya ada kami. Beristirahat sejenak, melepas lelah, menekan tombol f5 di sel otak sambil menikmati desiran angin yang tetap terasa lembut dan menyenangkan. Gue bahkan sempat meminum segelas susu untuk menstabilkan kondisi. 4.20, kami di Tanjung Aan :D


Dipo dan Harit seperti biasa menjalankan perannya seabagai fotografer, dan gue, karena kamera gue kehabisan baterai, akhirnya gue dan Jond cukup menikmati keindahan pantai Tanjung Aan, dan jutaan warna dari lukisan yang Maha Kuasa sore itu. kami sempat berfoto berempat, gambar ini diambil di tebing Tanjung Aan, berlatar belakang laut dan tebing yang lain, Ketum IL menunjukan one shot one skill nya :D. Kejadian lucu sore itu saat kami hendak menuruni anak tangga buatan di tebing itu, segerombolan anak kecil menengadakan tangannya ke arah kami sambil mengatakan: "Uang tangga, kami yang buat tu tangga" kata salah seorang dari mereka. aku tertawa geli, masih kecil sudah bisa pungli, kasian. Hal konyol ini akhirnya dihentikan IL dengan kalimat: "Sudah sana pulang tidur, anak kecil jam segini masih main!" menggunakan bahasa lokal. Ternyata Lombok Tengah memang masih dikenal rawan pungli, bahkan anak kecilpun bisa melakukannya. Kami harus segera meninggalkan pantai indah ini sebelum gelap.

Motor masing-masing sudah dinyalakan, ternyata motor yang gue dan harit pakai mengalami kerusakan pada lampu depan. Lampu depan motor tidak berfungsi, sehingga kami harus berjalan pelan di antara motor Jond dan Dipo, jalanan yang kami lewati juga tidak begitu baik, sehingga terasa semakin sulit. Setelah melalui perjalanan sekitar 2jam dengan kondisi lampu motor tidak berfungsi, akhirnya kami tiba di kota Mataram. Kami menyempatkan diri untuk menikmati makan malam di salah satu tempat makanann khas Lombok, Nasi Puyung. nama menunya lucu, nasi puyung sedang gaul, ekstra dan lain-lain. Nasi puyung ini terdiri dari nasi, ayam suir yang pedas, kacang, dan sambel yang pedas. Hampir semua makanan di Lombok ini terasa pedas namun sangat memanjakan lidah. Tidak berapa lama saat kami menikmati makanan khas Lombok ini, Culin datang dan ikut bergabung makan bersama kami. Pukul 7.40 malam kami kembali ke rumah Wibi. Seluruh badan terasa kaku, pegal dan lelah. Rebahan menjadi satu pilihan paling pas saat tiba di rumah Wibi.

Tidak berapa lama merasakan otot-otot kembali merenggang, gue menyalakan laptop dan memindahkan foto-foto selama di Seriwe dari kamera gue, Harit dan Dipo. Selanjutnya melihat Video saat kami di sana. Sangat menghibur, sukacita kami bahkan mampu mentransfer senyum dan membunuh rasa lelah kami malam itu. Semuanya tertawa, tersenyum dan pasti memiliki jutaan suara kecil dalam benak, bersyukur dan membentuk narasi sendiri-sendiri. Malam itu gue tutup dengan beberapa postingan di tumblr, dan tak lupa bersyukur kepadaNya untuk kesempatan luar biasa beberapa hari belakangan. hari keempat #DPRWolesGoesToLombok, gue temukan keindahan, nyanyian ombak, belaian angin, dan lukisan indah The Sacred yang kedua di Seriwe:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar