{Day 5}
-Part One-
-Part One-
Pukul 7 pagi gue sudah rapih dan segar setelah mandi, gue duduk di kursi bambu di depan rumah wibi. di sana ada sebuah meja kecil untuk meletakan segelas kopi yang baru saja gue buat. sambil kembali menikmati angin pagi khas kota Mataram dan hayal serta imaji kembali bermain-main ke dalam moment yang baru saja gue lewati empat hari belakangan. kopi pagi terasa lebih nikmat dari biasanya. manis, persis seperti perjalanan ini.
Dipo, Harit dan Jond seperti biasa masih terlelap. lelah dari Seriwe sepertinya masih menempel di tubuh mereka masing-masing. Hari itu hari sabtu, hari dimana Ivan, salah seorang anggota Fokus Unram yang menemani perjalanan kami selama di Lombok merayakan hari wisuda sebagai A,Md nya. Karena hari itu Ivan wisuda, anak-anak Fokus Unram harus menghadiri acara wisuda dan akhirnya menjemput kami sekitar pukul 3 sore. sambil menunggu waktu, gue, dipo, harit dan jond melakukan kegiatan kami masing-masing. Gue mengedit beberapa gambar yang berhasil gue dapat kemarin di Seriwe, setelah itu bergantian dengan Harit, Dipo merebahkan diri di atas karpet di teras depan bersama Jond sambil berbincang-bincang ringan dan menyeruput kopi. Sore itu kami akan ke Gili Trawangan.
Pukul setengah 4 sore akhirnya anak-anak Fokus Unram, IL, Enji, Culin, Wibi dan Ivan akhirnya datang menjemput kami. Segera kami menyiapkan peralatan dan bawaan pribadi untuk menikmati malam minggu di salah satu pulau terindah di Lombok, pulau yang tanpa polusi dan polisi, Gili Trawangan. Seperti hari-hari kemarin kami menuju Pelabuhan Bangsal mengenderai sepeda motor, sore itu gue menumpang di motor Ivan, selama diperjalanan gue dan Ivan mendengarkan beberapa lagu di smartphone gue. Viva la vida nya Coldplay, You're my everythingnya Glenn Fredly sampai Dont Stop Me Now nya Queen. kami bernyanyi sepanjang jalan, melalui bukit dan menanjak, berbelok menemukan bayangan sepeda motor di atas jalanan yang berkelok-kelok curam tanpa pembatas itu. kami memang sengaja melewati jalur gunung untuk mendapatkan pemandangan baru, kata Ivan yang akrab gue panggil Ngkong.
Di sepanjang perjalanan, di atas bukit dengan hembusan angin yang lebih dingin, berjejer beberapa anak monyet, kata Ivan di daerah gunung ini memang masih banyak monyet berkeliaran tapi tidak sebanyak dulu, sekarang monyetnya sudah mulai sedikit karena diburu oleh masyarakat lokal, entahlah digunakan untuk konsumsi atau menjadi komoditi. setelah melewati jalur "monyet" motor sudah mulai menuruni bukit, pemandangan yang biasanya yakni hamparan pantai dan laut berubah menjadi sawah dan bukit, waktu itu sekitar pukul setengah 5 sore, cahaya matahari sudah berubah menjadi jingga. terlihat beberapa anak muda bermain bola di lapangan hijau di kaki gunung. dominasi hijau ada disudut mata gue, tidak kalah indah dari pemandangan biasanya. menenangkan, menyejukan dan selalu menyegarkan setiap sel di otak gue yang selama ini sudah tersumbat asap dan polusi Jakarta.
- Menyeberang ke Gili Trawangan-
Tidak lama setelah menikmati pemandangan dengan nominasi warna hijau, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Bangsal, pelabuhan tempat public boat berlabuh untuk mengambil dan menghantarkan penumpang ke Gili Trawangan. Pemandangan laut, pantai dan sunset kembali menyapa dan mengucapkan selamat datang. Sebelum berangkat kami membeli logistik terlebih dahulu, air minum satu kardus besar menjadi pilihan kami. setelah membeli beberapa cemilan, rokok dan minuman, kami kemudian naik ke atas public boat yang sudah hampir penuh diisi penumpang. Kami duduk di bagian kapal paling depan. mengobrol, dan bermain-main dengan kamera, mengabadikan moment sore itu. Gue sempat berbincang dengan salah seorang warga negara asing dari Jerman bernama Sutczhi, dia baru saja menyelesaikan studinya di Mesir dan merasa sangat membutuhkan liburan, jadi di sanalah dia dan teman-temannya, berusaha menemukan keindahan dan "tombol f5" untuk kembali merefresh otak dan pikiran. Tidak beda jauh sama gue, pikir gue dalam hati.
air laut bermain-main menciptakan gemercik bersama sebongkah kayu yang menjadi bagian dari kapal, mereka menciptakan nada tersendiri yang menyenangkan, berpadu bersama pantulan cahaya orange dari sinar matahari yang hendak kembali ke persembunyiannya. 20 menit kami menikmati itu, lalu kemudian tiba di Gili Trawangan.
"Selamat datang di Gili Trawangan" Sambut Candra, teman dari Ivan dan IL yang sudah menunggu kedatangan kami. beruntung kami mengenal Candra sehingga kami tidak perlu bersusah payah meminta ijin untuk membangun tenda di pinggir pantai. Candra sudah lama tinggal dan bekerja di Gili Trawangan, dia sudah berkeluarga dan akan segera mendapatkan anugerah Tuhan yakni seorang anak, kurang lebih itulah obrolan singkat tentangnya yang mengiringi langkah kaki kami disepanjang pesisir pantai Gili Trawangan sore itu. Pemandangan sekitar didominasi oleh turis-turis asing, berbikini, naik sepeda atau sekedar berjalan kaki.
Akhirnya kami menemukan tempat yang pas untuk membangun tenda, di sekitar tanaman bakau yang tumbuh subur di pasir putih dengan serpihan kerang berwarna merah jambu di Gili Trawangan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membangun tenda sore itu. Matahari sudah kembali kepangkuan ibunya, dan kami anak-anak manusia sedang berusaha untuk sebisa mungkin menikmati malam (yang akan menjadi panjang) saat itu. Melihat pantulan cahaya bulan serta bintang di laut, menikmati deburan ombak dan beberapa lantunan musik dari cafe yang letaknya tidak jauh dari area camping ground kami.
sleeping bag digelar, Dipo dan Harit merebahkan tubuh mereka di sana, dengan hayal dan imaji masing-masing. Gue masih duduk, memasuki dunia hayal gue sendiri. Jond dan IL berjalan-jalan di pinggir pantai dan kemudian menghampiri gue, menunjukan sebuah cahaya ditangannya, dan ternyata itu adalah sebuah batu yang bisa menyala. "Gilaaa!! kerennnn banget!!! nemu di mana nih Jon?" Kata gue antusias. "Di sana no, ayo makanya!" kata Jon sambil menunjuk ke arah pinggiran pantai tempat ombak berkumpul membentuk warna putih seperti busa. Gue berjalan dengan tidak berhenti tersenyum, berusaha mencari batu-batu kecil yang memancarkan cahaya berwarna biru dan hijau. "wooohhoooo ketemu, anjiiir keren banget aslik! baru kali ini gue nemu batu bisa nyala, anjeeeeeng!!!" gue setengah berteriak sesaat setelah gue menemukan batu itu. Kejutan pertama di Gili Trawangan, malam minggu yang tidak ada duanya!!!
Masih asik mencari batu-batuan yang menyala, tiba-tiba ada cahaya kembang api, yak! semakin lengkaplah kejutan malam itu! "ALLLIIIGGG!!! Liburan gue kece banget!!" Sahut Jond, "Kembang api broooh, di Gili Trawangan Broooh, malem minggu brooohhh!!! Gokiiilll!!!" kata gue sambil berteriak. Iya, malam itu gue sangat menikmati suasana, semuanya, tidak mau melewatkan satupun. Setelah puas mencari "batu menyala" gue tiba-tiba ingin merasakan eargasm , sambil merebahkan tubuh di atas pasir, gue pasang earphone gue, memutar sebuah lagu berjudul Berlyn yang dinyanyikan dengan romantis namun sedikit dramatis dan sendu oleh The trees and the wild. Lagu itu membawa gue kepada suatu masa yang harus gue tulis di atas pasir Gili Trawangan dan akhirnya terhapus ombak. Sembari memejamkan mata, gue berusaha untuk masuk ke dalam lagu itu, menikmati setiap dentuman nada yang tercipta dari instrumen-instrumen musik di sana. Sepertinya malam itu hanya ada gue, dan ombak, dan angin. Gue membuka mata dan kembali mendapatirasi bintang layang-layang. Moment ini, semuanya ini, mereka semua sudah melekat di dalam setiap sel otak gue, tidak ada satu selpun yang terlewatkan.
"Berenang kane kali nih yee!" Kata Jond mengajak gue berenang. Malam itu sudah pukul 11, angin laut sudah mulai terasa dingin, "boleeehhh!!!" kata gue bersemangat. seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, gue ngga mau melewatkan malam ini, jadi berenang di laut tengah malam juga tidak menjadi hal yang harus ditolak :D Malam itu gue, jond dan Ivan berenang-berenang kecil dipinggir pantai. Kami duduk di atas karang di dasar pantai itu, dari dalam air "batu menyala" itu menempel di kaki gue seperti pantulan cahaya bintang. Kami membuka obrolan-obrolan kecil untuk membunuh rasa dingin. Ketika sedang asyik bercengkrama sambil berendam di dalam air asin yang dinginnya seperti air di Wonosobo, gue menghadap ke atas langit, dan ...... melihat bintang jatuh. "This is such a fuckin great and unforgetable moment!!!" pikir gue dalam hati yang kemudian di susul oleh kalimat "Ya Tuhan semoga ..........." dari mulut gue. Jond dan Ivan tertawa saat gue berteriak mengucapkan wish gue ketika melihat meteor itu. AHHH ROMANTIS sekali.
Badan kami akhirnya sudah mulai terasa beku, air laut menjadi semakin dingin, beberapa menit kemudian gue menghadap lagi ke langit, lalu ..... yaa ... gue kembali melihat meteor, dan sontak kembali berteriak "Ya Tuhan, semoga ........." wish kedua, dan kembali di tertawakan oleh Jon dan Ivan. Akhirnya kami kembali membuka obrolan baru yang akhirnya terpaksa kami sudahi karena sudah mulai menggigil kedinginan. Kami kembali ke atas, mengenakan pakaian dan kembali berkumpul bersama anak-anak lain yang sedang asik menikmati malam minggu luar biasa itu sambil menenggak "brem" dan membicarakan banyak hal.
Kami membentuk sebuah lingkaran dan membakar api unggun. "wooohh!! api unggunan, kembang api, bintang jatuh, nenda, di Gili Trawangan, ahhh cakep banget nih liburan gue" suara-suara kecil seperti biasa bermonolog dalam benak gue. Gue kemudian merebahkan kepala gue dan membiarkan pasir putih menempel dikaki dan tangan gue. ada bayangan sebuah tangan menyentuh kepala gue, iaa bayangan itu ada di dalam hayal yang gue temukan saat gue memejamkan mata. Sayup-sayup gue dengar suara Candra sedang menceritakan sejarah gunung Rinjani dan pulau Lombok. Kemudian gue kembali bangun dan duduk tertegun menemukan diri gue di sebuah pulau yang luar biasa indah, dengan moment yang tidak ada duanya, jauh dari Jakarta, jauh dari mereka, seperti tujuan gue sebelumnya.
setelah menikmati "me time" gue kembali ke lingkaran, Jond dan Ivan berencana untuk lomba lari. Siapa yang pertama kali tiba di garis finish dan memegang tangan Culin, dia yang menang, yang kalah harus push up 20 kali. Mereka pun mulai berlari dari jarak jauh sehingga badan mereka tidak terlihat dimakan gelap. Ivan berlari kencang dan tiba digaris finish, sedangkan jond berada 1 meter di belakangnya, tiba di garis finish dan memegang tangan Culin. Ivan harus menerima kekalahan karena tidak memegang tangan Culin saat tiba di garis finish pertama kali "ahhh orang Jakarta emang licik nih!!!" katanya sambil tertawa. Kami semua tertawa, melihat Ivan yang dengan kesal harus push up 20 kali. olahraga malam di Gili Trawangan lumayan lah :D
- Malam itu, di pulau itu-
Malam semakin larut, sudah pukul 2.00 pagi ketika gue dan jond masuk ke dalam tenda. Dipo sudah tertidur lelap, Enji, IL, Culin, Wibi dan Ivan juga sudah mulai memasuki alam mimpi mereka. Harit sedang berjalan-jalan menikmati suasana malam di Gili Trawangan. "Gue ngga mau tidur ah" kata gue dalam hati. sekitar pukul setengah 3 gue keluar, merebah dan menyenderkan kepala di sebuah batang kayu kering di samping tenda, kantuk sama sekali belum datang menghampiri. Perasaan senang dan sangat ingin menikmati moment menguasai gue. "belum tentu nanti bisa gini lagi" pikir gue. Mendengar ombak berkejar-kejaran dengan romantis membentuk gumpalan-gumpalan air berwarna putih, melihat ke arah depan menemukan bintang dengan warna-warna seperti pelangi, menghadap ke arah kanan menemukan cahaya bulan sabit di balik dedaunan pohon bakau, dan menghadap ke arah kiri menemukan teman-teman yang lain sudah tertidur pulas. Malam itu romantis.
sekitar pukul 4.30 pagi dini hari gue kembali melihat bintang jatuh, satu harapan kembali gue utarakan dalam hati, dan gue amini sambil tersenyum. tidak ada yang bisa membeli moment itu. tidak ada yang bisa membeli setiap keindahan dan keharmonisan alam yang diciptakan The Sacred itu. tidak ada yang bisa gue lupain dari setiap detik malam itu. dan tidak ada lagi mereka.
sudah pukul 5 pagi, gue akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam tenda. Gue memejamkan mata dan akhirnya masuk ke dalam alam bawah sadar gue. Bahkan di sanapun gue masih menemukan semua keindahan malam itu, bahkan di sana pun gue menemukan bayangan itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar