Halaman

Senin, 09 April 2012

Guru Fleksibel

Kembali ingin bercerita tentang bagaimana menjadi guru, salah satu profesi paling berjasa -setidaknya menurut saya- di muka bumi ini. Guru jaman sekarang, memang dituntut untuk berbeda dan fleksibel, khususnya untuk mengajar siswa SMA yang punya karakter paling susah ditebak, kadang nurut, kadang minta diturutin.

murid saya pernah bilang: "enakan diajar ibu, bu ***** ngebosenin, bikin ngantuk" salah satu keluhan paling umum yang pernah saya dengar. sebenarnya kembali lagi ke metode yang digunakan oleh si ibu ***** atau bapak *****, mereka cenderung menggunakan metode klasik, hanya berceramah dan sesekali melakukan ice breaking, tapi tetap saja membuat siswa lebih memilih untuk twitteran atau bbm-an daripada memperhatikan si bapak dan ibu guru. Mungkin, -prediksi saya- bapak dan ibu ***** masih terlalu gengsi untuk belajar kembali, untuk menjadi fleksibel. saya juga ingat bagaimana saya harus menggunakan kalimat-kalimat yang baku di dalam kelas, padahal menurut saya that doesnt matter mau pakai bahasa baku atau bahasa sehari-hari, yang penting pesan dan materi yang ingin disampaikan diterima dengan baik oleh siswa.

kecenderungan siswa yang lebih memilih sibuk dengan dunianya -misalnya handphone, komik, atau mengobrol dengan teman sebangku- menurut saya menjadi satu titik kelemahan guru dan menjadi indikator kurang menariknya metode yang digunakan. saya pernah sesekali menggunakan metode ceramah, dan memang ada siswa yang sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi, karena pada dasarnya saya tidak bisa mengajar sambil bercerita dan diam di satu titik, saya seringkali berputar-putar kelas menghampiri siswa-siswa saya yang sedang asik dengan dunianya sendiri, kadang saya langsung menegur "simpan dulu hapenya" atau berbisik "pacar lu juga lagi belajar kali, bbmannya nanti aja udah" dan mereka akan tersenyum malu, lalu mengumpatkan hapenya di kolong laci meja. akhirnya, saya memutuskan untuk merubah metode klasik itu. berbekal dari saran seorang teman, saya mencoba untuk mengajak mereka berpikir, berpikir di luar tembok-tembok kelas, berpikir di luar buku teks dan LKS yang mereka gunakan selama ini. saya mengajak mereka untuk melihat kondisi realitas sosial di sekitar mereka. saya memberi tugas kepada mereka dan menjadi salah satu sumber penilaian kemampuan berpikir kritis dan kepekaan mereka terhadap masalah sosial di sekitar mereka. tugasnya adalah: melihat masalah sosial di sekitar lalu diungkapkan dalam 140 karakter diakun twitter mereka masing-masing -ada murid yang bilang: "ibu pengen banget di mention kayanya" hahahaa- dan status facebook mereka. alasannya sederhana, mereka terlalu muda untuk menulis kalimat galau untuk dijadikan status facebook atau twitter, sekalian melihat bagaimana kemampuan berpikir dan kepekaan terhadap masalah sosial.

strategi ini cukup mendapat banyak perhatian mereka, ada yang tidak mau dan meminta untuk mengirim tugasnya melalui bbm, ada pula yang excited dan mention ke twitter saya ramai seketika. tulisan mereka juga variatif, lucu, dan saya sempat mengabadikannya beberapa.






saya senang melihat bagaimana mereka antusias, memanfaatkan jejaring sosial untuk belajar. mungkin ini yang saya maksud dengan fleksibel, mereka -siswa- punya dunianya sendiri, lalu sebagai guru, saya berusaha untuk tidak berada jauh dari dunia mereka terlebih menciptakan jarak di antara saya dengan mereka. jika ingin mengambil perhatian  mereka, saya harus masuk ke dalam dunia mereka, tapi tetap harus punya posisi tawar yang bisa mereka segani. dengan cara ini mereka bukan saja sekedar belajar, tapi juga punya pengalaman yang bisa diceritakan ke teman-teman yang lain: "guru gue gaul banget, ngasi tugas via twitter" dan saya hanya tersenyum simpul. terimakasih ka Galih Prasetyo dan Wahyu Munanto untuk ide cemerlang ini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar