{Day 2}
Selamat datang di Pulau Lombok. hari kedua setelah melakukan perjalanan panjang semalaman. Pukul 11.20pm WITA, gue, dipo, harit, dan jond memulai perjalanan dari Bali menuju ke Lombok. setelah bercengkrama dengan dande dan dedi (temannya Dipo dari Universitas Diponegoro) dan mas Komo, teman baru yang kami temui di Kuta dari Universitas Gadjah Mada yang baru saja mendaki Gunung Agung sendirian, kami kemudian menumpangi Taksi sampai ke Terminal Ubung. Bermodal 75 ribu rupiah kami sampai di Terminal Ubung sekitar pukul 12.45am WITA.
Sesaat setelah kami sampai di terminal Ubung, para calo terminal mulai merapatkan barisan ke arah kami, menawarkan berbagai alternatif untuk sampai di Pelabuhan Padang Bai, tempat kami akan menumpang kapal Fery menuju Pulau Lombok. Calo-calo terminal ini cukup membuat nafas terasa tercekik karena menawarkan harga yang lumayan tinggi. Kami kemudian berunding, memperhitungkan ongkos berbekal informasi yang diberikan oleh Mas Komo. Sampai kemudian kami menemukan seorang Supir angkot ELF berbadan besar, hampir seluruh badannya digambari tatto, pria berperawakan tinggi dan sangar ini mengenakan kaos hitam bergambar Harley Davidson, di telinganya juga terdapat anting kecil dan tak lupa mengenakan jam tangan besar di pergelangannya. tampak sangat seram. Namun, pria inilah yang akhirnya menawarkan harga muirah mengalahkan calo-calo terminal itu, sesuai kesepakatan, Bapak Supir ini akan mengantarkan kami sampai Padang Bai dengan ongkos 45ribu rupiah per orang.
setelah menikmati tidur selama kurang lebih 1 jam perjalanan, gue dibangunkan oleh Harit "Cel, udah nyampe". ya, kami sudah tiba di Padang Bai pukul 2.30am WITA. pagi dini hari. setalah menyeruput segelas kopi, kami kemudian berunding transportasi apa yang akan kami gunakan. apakah menumpang truk atau langsung membeli tiket Fery di loket. keputusan akhirnya adalah membeli tiket di loket dengan harga 36ribu rupiah perorang. Pukul 4.00am kami naik ke atas kapal milik ASDP itu, mengambil tempat untuk tidur, beristirahat untuk memulai petualangan hari ini. terlelap. merasakan guncangan ombak di dalam kapal. kemudian terbangun dan dimanjakan oleh barisan pulau-pulau berawarna hijau, bersanding dengan laut dan langit biru. yaa, kami sudah sampai di Lombok.
Pulau, pantai, langit, laut, dan matahari pagi. Lukisan The Sacred yang luar biasa ada dihadapan gue pagi itu. Tidak berhenti gue bergumam dalam hati "You Are Awesome God", yaa pelajaran untuk bersyukur sudah gue dapat sejak pagi itu. menikmati lukisan Sang Maha Kuasa dipagi hari, di nafas pertama pagi itu. sudah tidak sabar untuk mengabadikannya menjadi digital.
segera gue ambil kamera gue, berjalan keluar sambil menemukan berjuta keindahan. kemudian gue menemukan bendera Merah Putih yang berkibar gagah di balik matahari pagi. sesaat setelah gue memotretnya, suara kecil dalam benak gue bermonolog "gue boleh ngga cinta sama negara, tapi gue bakal terus cinta sama negeri ini"
~Pulau Lombok sudah memberi pelajaran dan memanjakan bahkan sejak awal gue tiba dan menghirup udaranya.
Pukul 9.00am, 23 Mei 2012, kami berjalan menyusuri kapal Fery menuju daratan tanah Lombok. Berempat kami membawa tas dan bawaan masing-masing. Gue yakin dalam benak kami masing-masing ada banyak suara-suara kecil berteriak-teriak kegirangan, semuanya berlomba menyampaikan ide, berlomba menyampaikan rasa dan kenikmatan yang baru saja kami alami.
Tujuan pertama kami setelah tiba di Pelabuhan Lembar, Lombok adalah pusat informasi yang terpercaya. Syukurlah kami menemukan kantor pusat Informasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Kami mendapat banyak bekal, informasi, peta, dan juga tepat instirahat. Rencananya kami akan dijemput oleh temannya Harit, anak asli Lombok yang tergabung dalam komunitas fotografi kampus di Universitas Mataram. setelah beristirahat, dan menghabiskan secangkir kopi, kurang lebih pukul 10.30am WITA seorang pria remaja menuju dewasa berbadan agak tambun menghampiri kami, rupanya dia adalah salah satu anggota dari komunitas fotografi kampus Universitas Mataram, namanya Enji, teman-teman yang lainnya sudah menunggu kami di depan pelabuhan.
Panas matahari siang itu sangat terik, debu-bedu berterbangan disapu kendaraan-kendaraan roda maupun empat. kami berjalan menyusuri jalanan pelabuhan yang tidak teratur, disinari terik matahari yang sudah cukup membuat kulit terbakar. setelah berjalan kurang lebih 5 menit, kamipun bertemu dengan teman-teman dari Universitas Mataram yang lainnya. Mereka adalah Ilham (Ketua Umum FOKUS UnRam), Culin, Wibi, Daeng, Alam, dan Indah. Mereka dengan sangat romantis menjemput kami di pelabuhan dan kemudian mengajak kami untuk beristirahat sejenak di Studio foto Fokus di Kampus Universitas Mataram.
Sambutan yang sangat romantis dan bersahabat dari teman-teman Unram. Awalnya memang gue merasa sedikit canggung, karena memang belum melakukan proses pengamatan sekitar dan enkulturasi. Tapi untuk merasa dekat dan bersahabat dengan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama. Orang-orang canggih dan luar biasa bersahabat, iaa itu mereka.
-Siang hari di Kota Mataram-
kami masih berbincang-bincang sambil menujuk-nunjuk peta, mengatur rencana dan kesepakatan akan ke manakah tujuan kami selama kurang lebih 6 hari di Lombok. teman-teman Unram mulai menyampaikan beberapa tempat yang indah di Lombok. sayangnya, waktu kami tidak cukup banyak untuk menyambangi semua tempat tersebut. Setelah rencana tersusun rapih, kami sudah mulai merasa dinding lambung tersenggol-senggol cacing kelaparan. Kami akhirnya makan siang di satu warung makan milik orang tua dari anggota Fokus Unram di sekitar wilayah kampus Unram. setelah makan siang kami menyempatkan diri untuk ngbrol-ngobrol santai untuk saling mengenal karakter satu sama lain.
setelah menghabiskan waktu untuk saling mengenal, kamipun beranjak kembali ke kampus Unram, mengambil barang-barang kami dan menuju ke rumah Wibisono Santoso alias Wibi. salah seorang anggota Fokus Unram yang dengan sangat romantis dan baik hati merelakan rumahnya untuk menjadi tempat menginap kami. Di sanalah kami bermalam. di sanalah kami saling bercanda. di sanalah kami merebahkan diri merasakan istirahat, di sana pulalah kami saling mendalami karakter masing-masing. Tidak diduga memang, mereka adalah teman baru, tapi terasa seperti sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.
- Menuju Senggigi-
Sore hari, setelah mandi dan merapihkan diri, melepas segala kelelahan setelah menempuh perjalanan via darat, laut dan udara, kami akhirnya bersiap-siap untuk menikmati sunset di Pantai Senggigi. Tujuan pertama di hari pertama. Sepanjang perjalanan ada banyak hal yang luar biasa, sepi kendaraan, tertib, warna lembayung jingga matahari sore, dan mesjid yang sangat mudah di temui, Ya, Lombok memang terkenal dengan sebutan pulau 1000 masjid. luar biasa.
Wibi mengendarai motor dengan laju kecepatan kurang lebih 80km/jam. sangat cepat karena hendak mengejar sunset, dan teman-teman yang lain yang sudah jauh sekali jaraknya. Pelan-pelan matahari semakin turun mendekati garis horizontal laut. Wibi semakin kebut, dan akhirnya sampai di Pasar Seni, Pantai Senggigi pukul 5.45pm WITA.
Teman-teman yang lain sudah berjalan jauh menyusuri pantai berpasir hitam itu. anak-anak kecil baik lokal maupun turis internasional bermain-main dan berlari-lari di sekitar, perahu-perahu nelayan terapung-apung cantik, jutaan senyum merekah di sana, termasuk senyum gue. Kejutan kedua hari ini, dariNya. Gue dan Wibi berlari kecil sambil sembari memperhatikan dan menikmati keindahan langit sore itu, ungu, biru, oranye, hitam, mereka berpadu, mereka mencitpakan lukisan berwarna. Segera gue keluarkan kamera dari tasnya, dan berusaha untuk mengabadikan moment itu.
Angin sore di pantai Senggigi berdesir kencang membelai rambut kami masing-masing. Harit dan Dipo tampak sibuk dengan kamera masing-masing, dan Jond tetap berjalan sambil menikmati angin dan sore di Pantai Senggigi. Berlomba-lomba mengejar Sunset. Sayangnya, sore itu sunset tertutup awan, kami tidak mendapatkannya. Sayang...
Meski begitu kami tetap menikmati sore di Pantai Senggigi, beberapa gambar telah kami rekam dalam imaji dan menjadi digital dalam kamera. Memori fotografic dalam otak akan terus merekamnya. Disanalah kami, menemukan awal persahabatan. Di sanalah gue, menemukan keindahan, melepas satu demi satu beban dan kalori di dalam otak, membiarkan mereka berdesir bersama angin ke arah utara, atau ke barat, atau ke timur, terserah, yang penting mereka lepas. Dan di sanalah gue menemukan sepasang mata yang tidak bisa jauh dari view finder kamera.
- Persahabatan di mulai, bersama Sate Bulayak dan Udayana, Lombok-
Udayana, bukan universitas terkenal di Bali, tapi salah satu tempat nonkrong favorit anak-anak muda Lombok. Di sanalah kami malam itu, sekitar pukul 7.00pm WITA. bersenda gurau, bertukar ide dan pikiran, dan cengan satu sama lain, sambil menikmati air jeruk hangat dan sate khas Lombok, Sate Bulayak. Sate daging sapi yang dimakan dengan lontong yang dibungkus daun kelapa. Pedas.
Di Udayana kami semakin mengenal satu sama lain, terlebih ketika Ivan, salah satu anak Fokus Unram terlihat mirip dengan salah satu anak UNJ yang akrab disapa Ngkong, semuanya semakin erat. Kami tak canggung, dan kekakuan sudah mulai merenggang. suasana menjadi semakin hangat mengalahkan angin yang semakin membekukan tulang. Malam itulah awal persahabatan kami, merebahkan kepala di rumah Wibi, menutup hari kedua perjalanan #DPRWolesGoesToLombok.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar