sudah cukup larut malam ketika gue tiba-tiba ingin menulis tentang stereotype klasik tapi tetep jadi bahasan asik tentang IPA is better than IPS. kenapa gue tiba-tiba berpikir untuk menulis tentang ini? mungkin karena kerinduan gue sama siswa-siswa yang dulu pernah gue ajar...
jadi, saat gue PPL (Program Pengalaman Lapangan) tahun 2011 silam, gue sempat berhadapan dengan kondisi "krik" saat gue bertanya kepada siswa-siswa gue "siapa yang mau masuk IPS". saat itu hanya kurang lebih 4-5 orang yang mengangkat tangan dan diantaranya hany 1-2 orang yang tangkas dan lekas mengangkat tangan tinggi-tinggi sebagai respon atas pertanyaan gue. yang ada dipikiran gue saat itu adalah "ihh sedih amat sedikit banget yang mau masuk IPS, emang kenapa sih sama IPS?". lalu gue kemudian mengajukan pertanyaan sebagai reaksi yang juga tiba-tiba "kenapa pada nggak mau masuk IPS?" dan kemudian seorang anak menjawab cepat "nggak boleh sama ortu kak!"
well, akhirnya malam ini gue kembali diingatkan sama kejadian "krik" itu, dan sempat juga gue bahas di twitter beberapa waktu yang lalu. ada apa sih sama IPS? yaa, jawabannya tetap sama, stereotype bahwa IPA lebih unggul dari IPS masih menjadi struktur yang agaknya susah juga untuk dihapuskan. setiap anak yang tidak diterima dijurusan IPA akan masuk IPS, jadi singkat cerita anak IPS yaa sisaan yang nggak masuk IPA, kurang lebih begitulah pemikiran yang nggak pernah basi sampai sekarang.
padahal, menurut gue pribadi (bukan karena gue alumni dan sekarang mengambil jurusan Ilmu sosial) IPS dan IPA punya kemampuan dibidangnya masing-masing dan diantaranya nggak ada yang lebih unggul. anak-anak IPA pasti lebih cerdas dibidang ilmu alam, hitung-menghitung, rumus-rumus fisika, kimia, dan matematika, menghafal anatomi tubuh untuk biologi dan lain sebagainya. dan, anak-anak IPS juga punya kecerdasan dibidang ilmu sosial, menganalisis masalah sosial, menghadapi fenomena-fenomena sosial dengan sudut pandang berbeda, menghitung(tapi untuk ekonomi dan akuntansi), atau mengkaji geografi. keduanya punya kompetensi yang sama dibidang yang berbeda.
sebenarnya, jika dari awal seorang anak/siswa diajak untuk menemukan minat dan bakatnya sejak dini, kayanya stereotype macam ini nggak akan bertahan lama. misalnya, sejak TK atau SD anak diajak untuk memilih bidang apa yang mereka minati sesuai dengan bakat yang ada dalam diri mereka, persis seperti SD TOMOE dalam buku Tottochan. anak yang sudah menemukan minat dan bakatnya itu selanjutnya diajak untuk terus menekuni apa yang dia pilih sesuai dengan keinginannya sendiri. orang tua juga punya peran penting, untuk tidak memaksakan keinginannya menjadi pilihan anak. maksudnya, anak memilih bukan berdasarkan paksaan orang tua, tapiiii sesuai dengan keinginan mereka sendiri. ortu ya jelas harus mendukung dan memfasilitasi anak.
NAH, kalau sudah begini, sejak awal dan dini anak akan mencintai minat dan bakat mereka, sampai ketika mereka masuk ke dunia SMP dan SMA mereka tidak lagi ragu untuk menentukan pilihan antara IPA dan IPS.
oh ia, bukan hanya orang tua yang punya peran penting dalam rangka menghapus stereotype ini. guru juga punya peran yang nggak kalah penting. sebagai mahasiswi yang pernah jadi guru (ciieee), gue pernah ada dalam situasi dimana gue harus meyakinkan siswa gue supaya tidak salah dalam memilih jurusan IPA atau IPS saat mereka naik kelas. yang gue lakukan saat itu adalah: pertama, melihat dan mengamati siswa-siswa gue saat pelajaran sedang berlangsung. nah, disitu seringkali terlihat pemandangan ada siswa yang masih aja asik ngerjain tugas matematika atau fisika padahal udah jelas lagi pelajaran sosiologi. nah, ketebak kan tuh anak demennya bidang apa. kedua, selalu menekankan bahwa, "kalian tidak perlu malu atau merasa bersalah apalagi bodoh ketika kalian masuk IPS, karena IPA dan IPS punya kemampuan yang sama dibidangnya masing-masing". ketiga, karena gue guru sosiologi, gue berusaha menonjolkan sisi "keasikan" dari belajar IPS, misalnya pakai metode debat, nonton film, main sosio-drama, dan lain-lain. supaya anak-anak yang emang minat sama IPS bisa lebih termotivasi untuk menetapkan pilihan masuk IPS, dan tidak ikut-ikutan temen yang mau masuk IPA biar dibeliin kamera D-SLR sama orang tuanya. dan yang terakhir, saat terakhir gue mengajar dan pamitan sama siswa-siswa gue karena PPLnya sudah selesai gue bilang ke mereka "semoga yang mau masuk IPA bisa masuk IPA, dan semoga yang mau masuk IPS bisa masuk IPS, semangat belajar dan tekunin minat dan bakat kalian masing-masing" udah itu aja. dan ketika gue kembali bertanya "siapa yang mau masuk IPS?" senyum simpul di wajah gue tercipta ketika melihat setengah dari siswa sekelas mengangkat tangan dengan tangkas dan semangat:)
ini cerita sungguhan, sekali lagi bukan karena gue anak sosiologi, tapi inilah yang pernah terjadi dan menjadi pengalaman gue yang gue rasa lumayan buat ditulis di sini. semoga gue bisa menjadi guru sekaligus orang tua yang sudah menganggap basi stereotype IPA is better than IPS!
cheers:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar