Gue masih bersemangat untuk membagi pengalaman gue beberapa waktu yang lalu ketika gue menjadi seorang guru di salah satu SMA Negeri di Jakarta Timur.
Menjadi seorang guru, khususnya guru mata pelajaran sosiologi ternyata bukan hal yang mudah. awalnya gue pikir merubah cara pikir dan stereotip bahwa pelajaran IPS itu tidak boleh dianggap enteng adalah hal yang gampang, nyatanya WOW! stereotip bahwa IPS menjadi pelajaran enteng yang dinomor duakan masih terstrukturasi aja sampe saat ini.
Sebelum menjadi guru "praktek" gue sempat membaca sebuah buku luar biasa (dan sekarang hilang, menyedihkan) yang berjudul Tottochan. dari buku ajaib itu gue menemukan sesosok guru sejati yang nggak ada obat kerennya! doski adalah kepala sekolah dari Sekolah Dasar yang bernama Tomoe. kepala sekolah tottochan ini menerapkan metode belajar yang jarang kita temui di sekolah-sekolah formal di Indonesia. metode yang mengedepankan asumsi "siswa adalah juara, siswa berhak belajar dengan caranya, dan guru bukan segala-galanya". dari situ gue sempat berpikir untuk mencoba menerapkan metode itu saat gue mengajar nanti.
Sampai saatnya gue mulai memasuki dunia sekolah formal. sebagai salah satu proses menuju sarjana, gue kemudian mencoba untuk menerapkan metode yang gue anggap ajaib itu di sma negeri tempat gue mengajar. pertama kali mengajar gue sejujurnya lupa bahkan tidak ingat sama sekali untuk menerapkan metode itu. gue terlalu nervous dan gelagapan ga guna di depan kelas, hahaha
Setelah beberapa kali menghadapi situasi kelas dan membaca berulang-ulang buku itu, akhirnya gue mulai terbiasa. jarak antara gue dan siswa gue mulai perlahan-lahan mendekat. gue mencoba untuk memasuki dunia mereka. memberi mereka kesempatan untuk bercerita tentang "sahur mereka saat puasa", bercerita tentang gebetan baru, atau hanya sekedar basa-basi dengan bahasa sehari-hari. sampai kemudian gue menemukan diri gue menikmati proses itu. siswa-siswa gue semuanya juara! punya karakter yang berbeda di setiap kelas. gue tidak hanya mengajar ketika berada dalam ruang kelas, tapi juga belajar dari mereka.
guru memang bukan dewa, gue menyadari itu, sehingga gue berusaha semaksimal mungkin itu menghargai setiap hasil kerja mereka. guru tidak selalu benar, sehingga ketika gue merasa bahwa gue salah, gue akan meminta maaf, dan menekankan bahwa gue juga manusia (klasik, ngelesologi! hahaha) tapi itu memang ampuh banget buat dapat perhatian dan kesan dari siswa.
memang pasti ada hambatan, terutama ketika gue kurang bisa mengendalikan emosi gue menghadapi kelas yang berisik. padahal gue harusnya mengerti, siswa sma adalah remaja, remaja yang hobinya memang main-main. jadi ya, kalau mau ngambil hati siswa sma, belajarnya harus bisa sambil main-main..
ahh, pengalaman luar biasa memang menjadi guru itu. kenapa ada orang yang mau bom bunuh diri, itu karena ada guru, kenapa ada pengusaha? ada doktor? ada dokter? ada orang-orang hebat. semuanya karena guru :) gue bangga pernah menjadi salah satu profesi berjasa itu:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar